Minggu, 25 Oktober 2009

Susulan renang = Worst activity ever

sebagai anak rajin dan peduli akan nilai, pagi ini aku dan dyah janjian mau renang. Dyah dateng jam 7 tapi gue jam stengah 8, means ngaret setengah jam dari perjanjian yang ditandatangani di TD, 24 Oktober 2009. Gue dateng en liat Intan lagi pemanasan dan Dyah bergeje ria memainkan kaki di air. Gue ganti baju, dan disambut kesengsaaraan dengan disuruh lari 5 keliling. Gue korupsi tuh lari jadi 2 keliling. Tadinya gue pikir Dyah dan Intan yg lagi mainin kaki di kolam cuma bergeje ria aja, tapi ternyata nggak. Gue disuruh melakukan hal yang lebih konyol dari mereka...
bagaikan orang disetrap, Paton nyuruh gue untuk mempraktikan sebelah kaki gaya dada sambil berdiri.

"Ul, coba lakukan begini (mencontohkan). Satu...dua...tiga...satu...dua...tiga. Oke? Lakukan (dengan cinta) 50 kali, bagi dua jadi 25 per kaki."
"Iya pak!" (lalu mulai melakukan adegan "syur" sementara seorang mas-mas agak ganteng merhatiin gue dengan teliti)
lalu...
"Udah Pak!" sambil ngos-ngosan. ternyata itu adegan syur plus geje  nguras tenaga juga ye?
"Ul, lakukan (dengan cinta) lagi tapi lebih cepet. Kayak gini, satu...dua...satu...dua... itungannya cuman sampai dua aja, yang tiganya jadi refleks. Oke? sepuluh aja masing-masing kaki"
Gue pasang pose syur, yak look at the camera, senyum biar kobe and... ACTION!
"satu..dua...satu...dua... (sampe dua puluh kali)"
lalu...
"udah pak!" (ngos-ngosan)
"Coba lakukan lagi, kali ini satu hitungan saja, gerakan ke-2 sama ke-3 jadi refleks, ngerti? Yo, 15 aja per kaki."
Gue mengulangi persiapan; mengingat naskah yang isinya hanya "satu...satu...satu..." sampai shooting selesai, mengangkat satu kaki sambil menyebut mantra "SATU...", menggerakkan pergelangan kaki atas perintah jempol, dan melengkahkannya dengan cepat. Memalukan sementara si mas-mas memperhatikan sambil mencatat (???)
Yap, sudah 30 dan aku bilang "udah pak"
"Yo, sekarang duduk, menghadap ke tembok, lakukan gerakan tadi yang hitungannya hanya satu tapi sambil duduk. Lima puluh kali aja." kata Pak Toni nyantai (gue : melongo)
Gue duduk, membuat pose eksotis, lalu mengucap mantra "SATU..." saat kaki gue angkat dan melakukan dua gerakan geje lainnya dengan refleks yg tanggap. Lima puluh gerakan selesai, gue menghadap Pak Toni membawa tumbal berupa kepala Hanun (???).
"Ayo sekarang masuk dan lakukan yang tadi di air. sepuluh kali aja (gue mengucap syukur) tapi 5 gelombang, per gelobang sepuluh (gue melongo. It's the same as 50, huh?). Go!" kata Pak Toni lagi-lagi dengan santai.
Maka gue bekutet dengan air layaknya anak SD baru belajar renang. Lima puluh gerakan gue lalui, lalu gue menghadap lagi, kali ini membawa tumbal kepala Ulya.
"Yak, sekarang coba aja dulu gaya dada melintang 5 kali. Go!"
Maka gue pun berenang gaya dada dengan polosnya. Seusai lima kali gue kembali tanpa membawa tumbal, Pak Toni pun berang.
"Mbak, kakinya itu dibuka yang lebar (dalam hati gue berpikir, kaki gue bisa copot kalo gitu nggak ya?) dan dinikmati (emang bisa ya?). Yak, sekarang memanjang 5-1 aja dulu dinikmatin (hah? memanjang? gak salah?). Go!"
Maka gue bekutet berenang bagai dikejar buaya kelaperan di belakang. Membrutal saudara-saudara...
Kembali dari berenang, gue menghadap Pak Toni membawa tumbal kepala Fajar. Kelihatannya Pak Toni kurang puas.
Singkat cerita, gue disuruh renang lagi terus menerus sampai akhirnya gue menangkap Adam dan memengal kepalanya lalu diserahkan ke Pak Toni.
"Nah, sudah bagus, sekarang boleh istirahat." (ooh, jadi yg dimau kepala Adam? Nanti gue bawain kepala Basith ah!)
Sesudah puas bersantai, gue renang lagi dan tetap memanjang. dengan berbagai nasihat,
"Chick and Chess rapet!" atau "Jari jemarinya menutup, agar tidak jadi hambatan" atau "tangannya!" dan yang paling sering lagi adalah "dinikmati Mbak!".
Maka gue mencari si Basith dan memenggal kepalanya, lalu...
"Nah, begini dong! Sekarang istirahat dulu, minum teh atau makan mi dulu!" (HAHAHA!)
Gue melihat Dyah sudah boleh pulang, Intan juga. Dan gue balik lagi, pingin cepet pulang.
"Ayo, Bapak target 35 detik memanjang. Siap?"
"Insyaallah"
"Go!"
Maka gue berenang bagai dikejar hantu Ulya, Basith, Adam, Hanun, Ulfi, dan yang paling menyeramkan adalah Pajrot. Alhasil gue mencapai target 37, tapi si Bapak belum mengikhlaskan gue pulang, maka gue tangkep si Dwiki, gue kulitin, gue sate, dan gue penggal kepalanya, lalu gue serahkan ke Pak Toni.
"Bagus, sekarang boleh pulang!"  (YESSS!)
gue melirik jam di dinding. Buset, jam 11? Gue TO jam setengah satu n belon bawa buku! bergegas gue cabut ke rumah, sampe rumah jam 12 kurang, makan, sholat, lalu cabut lagi k TD. Gue telat 10 menit. Gue mengisi LJK, melirik soal dan masyaallah. ini bukan soal tapi penyiksaan gelombang ke dua.
TENG...
Pertarungan antara makian ayah dan hujatan ibu melawan kepolosan dan ke-tak berdosaan gue dimulai. Belum lagi si soal kunyuk itu menggerogoti gue. Haaaaaa! Akhirnya, gue asalin semua jawabnnya (HAHA!). Gue pulang dan ketika nyaris santai di rumah, gue inget tugas OR. Langsung boyong laptop dan ngenet di perpus.

Well, that's my day.... Hari yang penuh tugas bagi Sang Putri Samber Nyawa. Hhhhh!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar